Do’a dan Air Mata

Ibu. Sosok yang begitu mulia sehingga dalam salah satu hadist disebutkan sebagai berikut

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Dua belas tahun lalu ibu saya menjalani operasi pengangkatan rahim. Saat itu saya tengah duduk di bangku SMP. Dalam waktu beberapa jam saja saya merasa dunia saya di jungkir balikkan. Bagaimana tidak, pagi hari ibu hanya pamit untuk memeriksakan diri ke dokter, siang harinya saya mendapat kabar ibu harus dirawat di rumah sakit dan segera menjalani operasi.

Selama ini semua kebutuhan saya dan dua adik saya selalu disediakan oleh ibu. Semenjak ibu masuk rumah sakit saya dihadapkan pada hal-hal yang mau tidak mau harus saya jalani. Mengurus dua adik saya yang duduk di bangku SD, mengurus rumah, bersekolah, ke rumah sakit, semuanya menuntut pembagian waktu dan pikiran. Ayah dan tante saya bergantian menjaga ibu di rumah sakit sampai tiba saatnya operasi yang dijadwalkan pagi hari.

Ketika itu saya tidak bisa mendampingi ibu karena harus menjaga adik-adik di rumah. Di rumah, saya hanya menatap jam sampai waktu yang ditentukan untuk operasi ibu. Saya berwudhu lalu sholat, hanya itu yang bisa saya lakukan. Hanya doa yang bisa saya berikan. Saat selesai salam saya mengangkat kedua tangan saya dan berdoa. Saya rasa saat itu adalah doa paling khusuk yang pernah saya lakukan. Dalam doa itu saya tidak meminta apa-apa kecuali kesembuhan untuk ibu.

Hal-hal seperti flashback dikepala saya. Kenakalan, pembangkangan, kekeraskepalaan saya terhadap ibu, semua saya sesali. Saya ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Saya larut dan tergugu dalam doa itu. Saya benar-benar memohon dalam ratapan doa kepada Allah. Saya merasa makhluk kecil nan lemah. Jika Allah berkehendak bisa saja dengan mudah ibu meninggal dalam operasi itu, dan saya menyadari itu.

Waktu demi waktu berlalu. Tidak sadar berapa lama saya telah berdoa. Saya tutup dengan Al-Fatihah kemudian sholawat. Harap-harap cemas menanti kabar dari rumah sakit. Siang harinya ayah menjemput saya untuk pergi ke rumah sakit. Betapa lega dan bersyukurnya saya ketika mengetahui operasi ibu berjalan lancar. Itu adalah pengalaman spiritual yang tidak pernah bisa terlupakan.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. (Al-Fatihah:5)

Advertisements

3 thoughts on “Do’a dan Air Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s