Apa karena saya pakai BPJS?

Saya saat ini sedang mengandung anak pertama Inshallah. Usia kandungan 7 bulan lebih. Awalnya saya periksa kandungan pada bidan di daerah Depok, karena saya ikut suami tinggal di Depok.
Bulan ke 2, 3 dan 4 saya masih periksa di bidan tersebut. Bidannya baik, ramah, teliti, pokoknya nyaman sekali periksa sama Bu bidan ini. Saat usia kandungan 4 bulan dianjurkan untuk USG.


Akhirnya saya USG disalah satu RS di Bogor karena kebetulan saya sedang berada di rumah orang tua saya. Dokter yang menangani saya pun sangat menyenangkan, tidak menakut – nakuti, ramah, konsultasi sepuasnya, pokoknya saya sreg banget sama Dokter ini.
Saat USG inilah saya baru mengetahui bahwa saya mengalami Placenta Previa. Sejak saat itu saya memutuskan untuk selalu memakai jasa dokter disetiap pemeriksaan. Dari mulai usia kandungan 5 bulan sampai sekarang 7 bulan saya selalu periksa ke dokter.
Pada saat saya mau periksa kandungan usia 7 bulan, ibu saya menyarankan agar saya menggunakan BPJS. Selama ini saya selalu bayar setiap melakukan pemeriksaan. Saya pikir iya juga ya kenapa tidak memanfaatkan BPJS padahal kita bayar juga.
Saat itu saya masih di Depok belum ke Bogor karena belum jadwal periksa. Akhirnya ibu saya yang mewakilkan saya ke Faskes tingkat I untuk meminta rujukan bpjs. Bidan yg bertugas saat itu tidak memberikan rujukan dengan alasan saya yg harus datang untuk diperiksa. Lalu minta surat dari Dokter yang biasa memeriksa saya.
Tanggal 24 November 2015 kemarin saya periksa ke dokter kembali. Lalu saya minta surat untuk ke Faskes tingkat I. Dokternya kebingungan karena biasanya Faskes tingkat I yang memberi rujukan untuk ke RS. Akhirnya Dokter memberi surat keterangan kondisi pemeriksaan terakhir.
Tadi pagi berangkatlah saya dan ibu saya ke Faskes tingkat I dengan niat untuk meminta rujukan untuk periksa 2 minggu lagi ke RS (saya sudah harus periksa 2 minggu sekali).
Sampai di ruangan periksa ada 2 orang ibu yang duduk dalam ruangan tersebut. Yang satu yang kemudian memeriksa saya. Yang satu diam saja. Pertama saya ditanya (tanpa memandang ke arah saya) tujuan saya kesitu. Logikanya melihat saya yang perut besar dan ada di ruangan bidan apa mungkin saya mau demo masak? Tapi saya jawab mau periksa. Lalu saya di tensi tanpa memandang wajah saya tanpa memberi tahu saya hasil tensi.
Lalu (lagi-lagi tanpa memandang saya) bidan itu berkata “timbang dulu”. Saya lalu menghampiri timbangan. Saya lihat letak jarumnya dimulai sebelum 0 (nol) lalu saya geser pakai kaki timbangan itu eh.. jarumnya bergeser tapi tidak sampai angka 0. Lalu bidan tersebut melihat angka timbangan dengan diam.
Timbangan saya 58kg. Saya bingung terus terang, timbangan tersebut saya kira tidak layak pakai karena tidak akurat dilihat dari jarumnya. Apa lagi saya timbang dibeberapa tempat timbangan saya 61,5kg. Sampai timbangan digital pun menunjukkan angka 61,5kg.
Lalu bidan tersebut untuk kesekian kalinya tanpa melihat ke arah saya bilang “tiduran!” Saya naik ke tempat periksa lalu kaki saya disuru menekuk. Sang bidan menekan2 perut saya beberapa kali. Lalu saya disuru meluruskan kaki. Perut saya diberi gel lalu bidan tersebut mendengarkan alat yg mendeteksi suara jantung bayi. Lagi-lagi tak ada sepatah kata pun terucap. Setelah selesai pun gelnya tidak dibersihkan, saya membersihkan sendiri. Mana tempat periksanya tidak ditutup.
Saya sabarrrrrrrrrrrr karena cara pemeriksaan yang biasa saya dapat di bidan Depok dan RS Bogor begitu teliti, nyaman dan ramah. Kenapa di tempat ini pemeriksaannya terkesan asal-asalan tanpa saya diberitahukan kondisi saya. Apa karena saya pakai BPJS ke Faskes tersebut? BPJS juga kan bayar bukan gratis.
Akhirnya saat saya diberi kertas resep obat saya utarakan niat saya untuk minta rujukan ke RS karena placenta Previa. Bidan tersebut tidak mau memberi saya rujukan dengan alasan saya tidak ada keluhan tidak ada pendarahan. Lalu bidan otu bilang ” ini kandungannya udah besar placentanya udah naik”. Saya kira ini berhubungan dengan nyawa manusia / calon bayi bagaimana bisa pemeriksaan asal-asalan seperti itu????
Saya di minta balik 1 bulan lagi. Ya sudah saya anggap mungkin memang begitu prosedurnya.
Lalu saya keluarkan surat dari dokter yang duluan dijadikan syarat untuk mendapat rujukan. Bidan tersebut bilang saya balik aja 1 minggu lagi.
DENGAN TIDAK MEMANDANG WAJAH SAYA SAMA SEKALI DARI PERTAMA SAYA MASUK RUANGAN ITU.
Hati saya bergejolak menahan kesal. Ingin rasanya saya marah pada bidan itu. Tapi saya sadar marah tidak akan menyelesaikan apapun.
Saya berfikir kemudian. Untuk apa diwajibkan mempunyai BPJS? Untuk apa saya bayar BPJS setiap bulan?

Advertisements

17 thoughts on “Apa karena saya pakai BPJS?

  1. Ya aampuun.. Kesel banget ya mak digituin.. Mana lagi hamil. Kayaknya pindah bidan aja deh. Coba di tempat lain, pasien bpjs juga dijutekin gak. Semoga sehat, selamat ibu dan bayinya ya πŸ™‚

  2. saya dulu pakai jampersal dan perlakuannya memang beda sich, mungkin karena gratis. ada perawat yang judes tapi ga semua kok.

    Semoga lain kali mendapat pelayanan Yang ramah dan diberi kelancaran sampai melahirkan ya Mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s