Resep pizza teflon home made

Iseng-iseng praktek bikin pizza teflon. Hasilnya lumayan juga untuk pertama kali mencoba. Entah saya ketebelan pas menaruh adonan di teflon, atau memang bantet (rotinya) kalau pake teflon karena panas hanya dari satu arah (bawah). Mungkin lain kali saya coba pakai oven listrik (kalau sudah beli Inshaa Allah). Okelah.. langsung cekidoootttt
Bahan roti:
Terigu 1/2kg
Minyak 6sdm
Margarin 6sdm
Telur 2
Dancow saset 1
Fermipan 1/2 Bungkus yg 11gr
Topping:
Keju kraft quick melt (parut)
Sosis
Saus Bolognaise (La fonte)
Coklat meses
[topping bisa diganti sesuai selera]
image
Cara membuat adonan roti:
  1. campur terigu dan fermipan, sisihkan.
  2. kocok telur dan susu bubuk hingga rata.
  3. tuang kocokan telur susu ke terigu yang sudah dicampur fermipan. Tambahkan minyak dan margarin.
  4. Aduk hingga kalis.
  5. setelah kalis tutup dengan kain dan diamkan 15 – 30 menit. Kemudian adonan akan mengembang.
image
6. Ambil secukupnya adonan yang sudah mengembang kemudian pipihkan di teflon.
7. Tusuk-tusuk adonan dengan garpu kemudian lumuri dengan saus bolognese, beri sosis dan keju.
8. Masak dengan api kecil.
image
Hasilnya seperti ini
imageSaya juga membuat topping meses keju 😉

Do’a dan Air Mata

Ibu. Sosok yang begitu mulia sehingga dalam salah satu hadist disebutkan sebagai berikut

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Dua belas tahun lalu ibu saya menjalani operasi pengangkatan rahim. Saat itu saya tengah duduk di bangku SMP. Dalam waktu beberapa jam saja saya merasa dunia saya di jungkir balikkan. Bagaimana tidak, pagi hari ibu hanya pamit untuk memeriksakan diri ke dokter, siang harinya saya mendapat kabar ibu harus dirawat di rumah sakit dan segera menjalani operasi.

Selama ini semua kebutuhan saya dan dua adik saya selalu disediakan oleh ibu. Semenjak ibu masuk rumah sakit saya dihadapkan pada hal-hal yang mau tidak mau harus saya jalani. Mengurus dua adik saya yang duduk di bangku SD, mengurus rumah, bersekolah, ke rumah sakit, semuanya menuntut pembagian waktu dan pikiran. Ayah dan tante saya bergantian menjaga ibu di rumah sakit sampai tiba saatnya operasi yang dijadwalkan pagi hari.

Ketika itu saya tidak bisa mendampingi ibu karena harus menjaga adik-adik di rumah. Di rumah, saya hanya menatap jam sampai waktu yang ditentukan untuk operasi ibu. Saya berwudhu lalu sholat, hanya itu yang bisa saya lakukan. Hanya doa yang bisa saya berikan. Saat selesai salam saya mengangkat kedua tangan saya dan berdoa. Saya rasa saat itu adalah doa paling khusuk yang pernah saya lakukan. Dalam doa itu saya tidak meminta apa-apa kecuali kesembuhan untuk ibu.

Hal-hal seperti flashback dikepala saya. Kenakalan, pembangkangan, kekeraskepalaan saya terhadap ibu, semua saya sesali. Saya ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Saya larut dan tergugu dalam doa itu. Saya benar-benar memohon dalam ratapan doa kepada Allah. Saya merasa makhluk kecil nan lemah. Jika Allah berkehendak bisa saja dengan mudah ibu meninggal dalam operasi itu, dan saya menyadari itu.

Waktu demi waktu berlalu. Tidak sadar berapa lama saya telah berdoa. Saya tutup dengan Al-Fatihah kemudian sholawat. Harap-harap cemas menanti kabar dari rumah sakit. Siang harinya ayah menjemput saya untuk pergi ke rumah sakit. Betapa lega dan bersyukurnya saya ketika mengetahui operasi ibu berjalan lancar. Itu adalah pengalaman spiritual yang tidak pernah bisa terlupakan.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. (Al-Fatihah:5)

26 Tahun

Alhamdulillah, bersyukur sekali saya masih di beri kesempatan hidup dan memperbaiki diri oleh Allah SWT.  Tahun ini saya memasuki usia 26 tahun. Ya, seperempat abad lewat dikit. Begitu banyak peristiwa yang terjadi selama tahun-tahun yang berlalu itu. Harapan saya semoga semuanya bisa saya jadikan pelajaran agar lebih bijak & lebih baik dalam menjalani hidup kedepannya.

Selama ini saya menjalani hidup dengan simple, mungkin juga ke-simple-an kali ya. Soalnya gak pernah ada target yang benar- benar saya buat. Hanya sekedarnya saja. Karena selama ini bagi saya dengan hidup bahagia dan bisa membahagiakan orang-orang dekat saya itu sudah cukup, tapi mulai sekarang saya ingin menambahkan  ‘target’ kedalam perjalanan hidup saya ke depannya (InsyaAllah panjang umur) biar lebih berwarna ceritanya (spidol kali berwarna hahahahaha… :p  )

Saya sangat berterima kasih sekali kepada semua orang yang terlibat dalam kehidupan saya. Tanpa kalian, saya saya bukan siapa saya yang sekarang 🙂

  • Terima kasih untuk kedua orang tua saya telah membesarkan, mengasuh dan mendidik saya dengan  kasih sayang yang berlimpah,  yang selalu ada dalam segala kondisi saya. Juga kepada adik-adik saya Hafidz & Hanif  I love you :**
  • Mohon maaf yang setulusnya kepada semua orang yang pernah tersakiti oleh saya. Baik secara sengaja atau tidak sengaja.
  • Terima kasih kepada teman-teman dan sahabat-sahabat saya yang telah berbagi tangis dan tawa, dan telah menjadi guru kehidupan saya.
  • Terima kasih kepada orang-orang yang telah menyakiti saya, yang membuat saya kecewa, terluka dan menangis. Tanpa kalian saya mungkin tidak tau arti bahagia dan  tertawa.

desa vs kota

Kebersamaan dan keperdulian… Itu hal yang sudah mulai luntur bagi masyarakat perkotaan.. Kebanyakan masyarakat kota agak sedikit egois.

Beberapa hari lalu saat perjalanan menuju tempat kerja, dalam sebuah angkot yang saya naiki, naiklah seorang bapak dengan penampilan yang sangat kumuh dan dekil. Beberapa orang bergeser menjauhinya. Tak lama kemudian naiklah seorang ibu yang penampilannya khas wanita pedesaan. Ibu itu membawa bawaan yang berat, tanpa di minta bapak itu langsung membantu menaikan bawaan tersebut ke dalam angkot. Setelah ucapan terimakasih sang ibu, mereka terlibat pembicaraan seperti dua orang yang sudah akrab.

Beberapa menit setelah angkot melaju,  ibu tersebut mengeluarkan segelas aqua dan sebuah kue lemper.  Sebelum menyantapnya ibu tersebut menawari satu persatu penumpang yang ada di angkot itu.  Dengan wajah tuanya yang tersenyum ramah ia menawari seolah penumpang dalam angkot tersebut adalah keluarga atau saudaranya, bukannya orang yang baru ia temui.

Ini hal yang amat sangat sangat sangat  jarang kita temui dalam lingkungan masyarakat kota yang kebanyakan ‘masing-masing’.

Selamat dari COPET..>.<

Alhamdulillah…. itulah kata yang gw ucap gak henti-henti untuk beberapa saat… Kemaren gw selamet dari copet-copet di angkot.
Setiap hari gw berangkat kerja selalu naik angkot 08A jurusan Ramayana -Taman Kencana – Warung Jambu. Angkot ini termasuk spesies yang masih sedikit kalo di bandingin jumlah angkot-angkot spesies yang lain. nah kemarin itu gw udah telat beberapa menit, jadi angkot 08A yang pertama gw liat langsung gw stop.Karena kursi depan yang sebelah supir ada yang ngisi, jadi gw langsung ambil posisis duduk di bangku belakang supir,terus ritual pasang headset dech.Beberapa penumpang naik dan turun.
Pas di Taman kencana ada seorang lelaki yang naik. Dia bawa tas ransel yang besar banget. Begitu naik dia langsung nepuk lutut penumpang yang sebelah gw. Ngasi isyarat biar geser kedalam. Perasaan gw langsung waspada, secara tempat yang lain masih kosong. Apa lagi bangku depan gw yang buat 4 orang penumpang masih kosong. Beberapa meter kemudian naik lagi satu orang pria dengan ransel besar juga. Dahsyatnya.. tanpa sengaja gw liat pria yang duduk sebelah gw itu ngasi isyarat ke pria yang baru naik dengan mengacungkan telunjuknya seperti gerakan tahiyat kalo dalam sholat . pria yang baru naik itu langsung duduk di bangku depan gw yang untuk empat penumpang.

Continue reading