Kita.
Hidup dalam cinta.
Juga luka.

Advertisements

Mengenangmu

Kepada lelaki yang kerap menemaniku menatap senja
Aku merindukanmu
Di pantai itu
Pernah aku tersenyum ketika sela jemariku penuh oleh jemarimu
Di bawah jingga senja yang meredup pelan-pelan
Yang memandu gelap dengan pasti
Malam paling indah yang kuingat
Saat langit menghitam membutakan
Lenganmu adalah pegangan paling kokoh yang kuandalkan.
Menjanjikan seribu langkah aman
Senja ini
Jemarimu melengkapi sela yang bukan milikku
Sudah lama sejak terakhir kulihat pantulan senja di matamu
Kutabahkan melihat senja setelahnya
Sendirian
Namun angin menerbangkan seluruh keteguhan yang kupunya
Bisakah kita menatap senja sekali lagi?
Kini di sana luka-luka bermuara
Semakin lama semakin banyak
Penuh lalu tumpah
Ruah menjadi air mata
Aku mengenangmu lewat senja
Lewat semilir angin yang membius serupa bisikmu
Lewat dedaun yang gemersik riuh serupa tawamu
Lewat hatiku, yang masih selalu berdebar ketika kusebut namamu
Waktu berjalan apa adanya, namun cinta kita tak sekedarnya
Kucoba mengikat cinta yang tak mampu menyatukan kita
Jauh setelah kepergianmu
Lama sekali sebelum kau kembali
Baru hatiku sadar
Bahwa cinta mungkin abadi tanpa saling memiliki